My first Shortstory. Please give your comment.
Promnite
Cuaca
di luar terasa menusuk kulit, angin dingin berhembus pelan. Salju putih tampak
dimana-mana. Menyelimuti seisi kota Chicago di setiap sudut. Dinginnya musim
dingin tidak menjadi hambatan untuk melakukan aktivitas penduduk chicago pagi
ini.
Seperti
halnya Shinta. Dengan jaket putih membalut tubuh mungilnya, ia berjalan melawan
dinginnya udara pada pagi itu. Sesekali uap putih keluar dari mulutnya. Sarung
tangan wol hangat yang sudah membalut tangan sepertinya masih belum cukup untuk
menghalau hawa dingin yang datang.
Kakinya
terus melangkah memasuki sebuah gedung sekolah. Menyusuri koridor sekolah, ia
segera mencari loker 231. Setelah didapatnya loker tersebut, bergegas dia buka
dan mengambil beberapa barang yang dianggap perlu.
“Ugh, Aku benci musim dingin. Dinginnya
membuatku membeku.”
Shinta
sudah hafal dengan suara itu. Tanpa menoleh Ia hanya tersenyum dan menambahkan,
“Kalau kau benci, berdiam diri saja di rumah. Meringkuk di bawah selimut hangat
pasti sungguh enak. Mudah kan ?,”
“Ya,
kamu mudah sekali mengatakannya. Kalau aku ikut kata-katamu aku bakal dapat
nilai F dari Mr. Daniel.”
“Bukan
saja Mr. Daniel, semua guru juga akan ngasih nilai F kalau kamu kayak gitu,”
kata Shinta dibarengi tawa renyahnya. “Aku mau ke kelas dulu, kamu mau ikut,
Bella?”. Shinta berbalik sambil merapikan poninya yang berantakan.
“Bolehlah,
ayo,” cewek berambut brunette yang dipanggil Bella itu pun merangkul tangan
Shinta. Mereka berjalan bersama menuju kelas. Berkali-kali terdengar gelak tawa
dari percakapan mereka. Tampaknya mereka adalah sahabat kental. Akrab sekali
kelihatannya.
“Hei, Shinta... Bella. Good Morning guys,”
“Morning
too, Laila,” jawab Bella ringan. Cewek berkerudung putih itu segera bergabung
dengan Bella dan Shinta. Laila Azzahra, muslimah asli turki itu selalu riang
dengan sahabat-sahabatnya.
“Morning,”
jawab Shinta juga. Seulas senyum terbentuk di sudut bibirnya. Sekedar memberi
sapaan lewat senyum sekilas itu.
“Eh,
kalian tahu kan kalau kita ada acara semacam perpisahan gitu ?,” kata Bella
memulai percakapan. Dua temannya hanya memberi anggukan kecil tanpa menjawab.
“Kalian tahu tidak tema acara itu ?”, lanjutnya.
“Belum
tahu lah, kan belum diumumkan.” Laila menjawab seakan pertanyaan itu tidak
perlu ditanyakan. Ia hanya tahu bahwa setiap tahun akan diadakan acara
perpisahan seperti itu. Dan menurut perhitungannya, kalau tidak salah acara itu
akan diadakan sekitar pertengahan musim semi.
“Prince
and princess in the world.”
“Apa
?!.” Shinta yang sedang menegak jus jeruknya sampai tersedak dibuatnya. Dia
sontak membersihkan sweaternya yang kotor terkena cipratan jus jeruknya.
“Prince
and princess in the world,” ulang cewek bermata sipit yang sudah duduk
bergabung dengan mereka bertiga. “Keren kan.”
“Darimana
kamu tahu, Yukino ?”.
“Hm..
Belum tahu pasti juga sih. Tapi rumor yang beredar berkata begitu. Memangnya
kenapa Shin ? Kok sampai tersedak begitu ?”, ujar Yukino sambil tersenyum lucu.
Cewek jepang satu ini memang paling suka menggoda teman-temannya.
“Bukan
apa-apa”.
“Keren juga sih. Putri dan Pangeran.
Pasti seru kalau semua yang datang pakai baju princess-nya masing-masing.
Apalagi ada pangeran yang datang menemani. What so Romantic”. Bella yang
memdapat julukan the drama queen ikut berkomentar. Dari raut wajahnya, Bella
nampak berbinar-binar membayangkan dirinya nanti.
“Wah ndak asyik nih,” ujar Laila cemberut.
“Aku gimana nanti ? Mana ada baju putri tanpa harus ditutupi rambutnya.”
Semua terdiam mendengar keluhan Laila. Memang
ada benarnya juga sih perkataan Laila barusan. Hampir semua putri dalam putri
dongeng pasti menampakkan rambutnya. Semua berpikir keras menemukan solusinya.
“Ada kok.” Shinta yang sedari tadi
terdiam kini angkat bicara. “Tinggal pakai gaun lengan panjang. Dipakaikan jilbab.
Terus kalau mau lebih bagus diberi pelengkap sedikit seperti.. ehm... selendang
mungkin.”
“Ya, bagus juga.”
“Mungkin kamu akan terlihat sangat
cantik, Laila”.
“Ya, mungkin juga. Aku akan pikirkan
idemu Shinta. Thanks.”
Berbagai komentar terdengar dari mulut
ketiga temannya itu. Shinta hanya tersenyum mendengar celotehan mereka. Tak
sampai satu menit, Shinta kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Telinganya
tak lagi mendengar obrolan teman-temannya yang masih berlanjut.
Mata Shinta terus memandangi pohon-pohon
yang perlahan memutih, ditutupi timbunan salju yang semakin menebal. Rasa
dingin tak lagi dipedulikannya. Pikirannya sibuk memikirkan acara perpisahan
yang masih 3 bulan lagi. Kalau benar apa yang di bicarakan teman-temannya,
Shinta pasti akan bingung memikirkannya. Pergi atau tidak ? Kalau pergi mau
pakai baju apa dia ?. Berbagai pertanyaan berseliweran di otak Shinta. Mencoba
untuk dijawab. Tapi masih susah untuk ditemukan.
Seorang wanita paruh baya masuk ke kelas
Shinta. Seketika grup mengobrol yang dibuat beberapa murid bubar dengan
sendirinya. Sepertinya wanita itu memiliki wibawa yang cukup kuat, sehingga
membuat segan semua murid.
Shinta yang masih melamun tidak
menyadari kedatangan Mrs. Patricia, nama wanita paruh baya tersebut.
Pandangannya masih mengarah ke jendela, melihat keadaan luar.
“Ms. Shinta, bisakah kamu memandang ke
depan ?”.
Teguran tegas Mrs. Patricia seketika
melenyapkan lamunan Shinta. Kesadarannya sudah ia peroleh kembali. Matanya
bergegas menatap ke depan kelas. Melihat Mrs. Patricia yang sudah tak sabar
memberi materi pelajaran ke murid-muridnya.
“Baiklah. Thank you for your attention. Sebelum
kita memulai pelajaran hari ini. Saya mau mengumumkan sesuatu.” Mrs. Patricia
menarik nafas sejenak. “Sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian akhir.
Sebelum upacara kelulusan, kalian harus menghadiri semacam acara perpisahan.
Nah, untuk lebih lanjutnya silakan kalian lihat di papan pengumuman.”
Kirain apaan, gerutu Shinta pelan.
Setelah berbicara seperti itu, Mrs. Patricia memulai pelajaran seperti biasa. Beberapa
kali, pikiran Shinta kembali ke masalah acara perpisahan itu. Tapi, selalu
terhenti saat ia memarahi dirinya sendiri dalam hati. Dia tak mau perjuangannya
selama di negara orang ini sia-sia cuma karena masalah sepele itu.
“Shinta, aku pulang duluan ya. Bye”.
“Ok, Bella.”.
Jam sekolah sudah berakhir dari lima
menit yang lalu, di kelas hanya tersisa beberapa orang termasuk juga Shinta didalamnya.
Setelah Ms. Irene keluar kelas, Shinta masih sibuk mencatat pelajaran di buku
catatannya. Baru sekarang, dia bisa pulang ke asramanya di sebelah barat gedung
sekolahnya.
Sebelum pulang, Shinta selalu mengecek
kembali lokernya. Lagipula, jaket putihnya juga ia simpan disana. Sambil
berjalan, Shinta sibuk memasukkan buku-bukunya ke tas. Rambutnya yang sedikit
berantakan juga sesekali disisirnya menggunakan jari.
Karena tidak melihat jalan di depannya,
Shinta tak sengaja menabrak seorang cowok di depannya. Karena postur badan yang
tidak seimbang, Shinta jatuh terduduk dibuatnya. Sambil mengerang kesakitan,
Shinta memarahi cowok yang masih berdiri di depannya.
“Kamu tidak apa-apa ?”, tanya cowok itu
pelan setelah amarah Shinta mereda. Tangannya ia ulurkan untuk membantu Shinta.
Tetapi, Shinta malah diam.
Wah, gantengnya cowok ini, batinnya
terpana.
“Kamu tidak apa-apa ?, ada yang sakit
?”, ulang cowok itu lagi. Matanya menatap Shinta cemas. Mungkin ia merasa
bersalah sudah membuat cewek satu ini jatuh terduduk di lantai.
Mata Shinta mengerdip dua kali, mencoba
mengembalikan kesadarannya. “Ya, a..ku sudah tidak apa-apa. Maafkan aku,”
Shinta menyambut uluran tangan cowok tersebut.
“Aku yang harus minta maaf. Aku minta
maaf ya,” kata cowok itu tersenyum. Oh, senyumnya membuat Shinta terasa mau
pingsan. Manis sekali. “By the way, Aku Yogi. Senang berkenalan denganmu.”
“Aku Shinta, senang berkenalan denganmu
juga,”. Mendengar nama cowok itu Yogi, rasa penasaran Shinta tak` tertahankan.
“Kamu orang Indonesia ?”.
Sesaat terlihat raut bingung di wajah
Yogi, “Ya, memang nya kenapa ? kok kamu bisa tahu?”.
“Hanya menebak. Ehm.... aku juga orang
indonesia soalnya”.
“Wah, kebetulan sekali.” Yogi berpikir
sejenak, “Sebagai permintaan maaf, maukah kamu jadi pasanganku di acara
perpisahan nanti ? Kebetulan aku belum ada pasangan.”
Tanpa berpikir lama, Shinta langsung menyetujui
ajakan Yogi. Siapa sih yang ndak mau diajak sama cowok seganteng dia.
“Bolehlah, nanti kita langsung ketemuan di tempat acaranya ya.”
“Baiklah, aku pergi dulu ya. Sampai
ketemu disana, bye.”
Shinta kembali melangkahkan kakinya ke
arah lokernya. Setelah mengambil jaket putih dan memakainya. Shinta segera
berjalan pulang menuju asramanya. Sebelum keluar dari gedung sekolah, Shinta
sengaja berbelok ke arah papan pengumuman. Melihat kebenaran rumor tentang tema
perpisahan itu.
Sebuah kertas besar berwarna terpampang
jelas, Shinta mendekat mencoba memperjelas tulisan yang mau dilihatnya. Matanya
segera beralih ke luar gedung, memandangi salju putih diluar yang jatuh satu
persatu. Dia menghela napas dalam, mengapa
tema-nya harus itu ?
“Shinta, kamu jadi liburan kali ini
pulang ke Indonesia ?,” tanya Laila tanpa menoleh ke arah Shinta. Dirinya masih
sibuk menautkan diri di depan cermin.
“Tentu, memangnya kenapa ? kamu mau
oleh-oleh ?.”
“Bukan apa-apa,” kepala Laila bergoyang
ke kanan dan kiri. “Hanya saja kalau kamu liburan di sini, kita bisa liburan
sama-sama.”
“Other time, Ok.”
Shinta kembali sibuk memasukkan
barang-barang yang dianggap perlu untuk di bawa ke Indonesia. Rencananya, besok
ia akan pulang ke Indonesia menggunakan pesawat. Liburan musim dingin merupakan
kesempatan emas untuk kembali ke negara asalnya.
Laila yang dari tadi hanya berdiri
melihat kegiatan teman sekamarnya itu, perlahan ikut duduk di kasur Shinta dan
membantunya berkemas. “Jangan lupa belajar Shin, setelah liburan ujian akhir
menunggu lho... Ehm..Nanti kamu sama siapa pergi ke acara perpisahan itu,
Shin?”.
Shinta yang tadinya hendak mengangguk,
mendengar pertanyaan Laila ia malah tersenyum. “Yogi.”
“Yogi ? siapa tuh ? Belum pernah
dengar.” Nada suara Laila terdengar bingung.
“Nantilah kamu ngelihat dia di acara
nanti. Pasti kamu bakal meleleh kalau ngelihat tampangnya,” senyum Shinta
semakin membesar. “Ternyata dia orang Indonesia, lho. Kalau kamu ?”.
“Aku ?”, senyum hambar terlukis diujung
bibirnya. “Paling sama Ahmad, Ummi mana boleh dengan yang lain,”. Laila
menyebut nama saudara kembarnya dengan kesal. Ibunya yang dia sebut Ummi,
adalah ibu asrama di sana. Jadi segala hal yang dilakukan Laila pasti diketahui
sama Ummi-nya.
Mereka kembali sibuk membereskan
barang-barang yang masih teronggok minta dimasukkan. Beberapa kali Laila maupun
Shinta menguap karena kantuk. Malam yang semakin larut, membuat kedua sahabat
itu cepat terlelap setelah menyelesaikan kegiatan mereka. Semua rencana, sudah
tersusun rapi di otak Shinta. Tak sabar ia menunggu hari esok. Tak sabar ia
bertemu ibunya. Tak sabar ia menjalankan rencananya.
Spring time !! Musim dingin yang penuh
hamparan salju kini perlahan menghilang. Rumput-rumput dan dedaunan hijau mulai
menghiasi wajah kota Chicago. Liburan musim dingin pun sudah berakhir sejak
lama. Murid-murid sekolah kembali menjalankan aktivitasnya. Aroma musim semi
tercium di mana-mana.
Dengan langkah pasti, Shinta berjalan
menyusuri jalanan kota menuju sekolahnya. Kali ini, Laila juga ikut menemani.
Mereka memang sudah janjian untuk pergi bersama.
“Yey, tak terasa ya, besok kita akan
pergi ke acara perpisahan sekolah,” suara laila memecah keheningan diantara
mereka berdua. “Aku masih penasaran dengan pasanganmu nanti itu, Siapa namanya
? Ehm Yogi, kalau tidak salah.”
Shinta seketika mengingat-ingat tanggal
esok hari. Pikirannya langsung membayangkan acara perpisahan nanti. Dan pakaian
yang rencananya ia akan kenakan. Dalam hati ia juga tidak sabar untuk pergi ke
acara itu. “Kita lihat saja nanti,” gumamnya.
“Apa ?”.
“Eh.. Bu.. kan apa-apa. Lupakan saja,”
ucap Shinta terbata sambil menggoyangkan tangan kanannya. Tanpa sadar, ia tak
sengaja menyuarakan isi hatinya.
“Jadi, nanti kamu pakai baju apa ?”.
Shinta tersentak mendengar kata-kata
Laila, tak mau dia membocorkan kostum yang akan di pakainya. Akhirnya ia cuma
bisa berkata, “Kita lihat saja nanti.”
Malam itu, aula sekolah terlihat sangat
ramai. Sebuah spanduk besar bertuliskan ‘Graduation night’ terlihat di pasang
diatas panggung. Berbagai makanan serta minuman terhidang disana.
Di sudut ruangan tampak dua orang cewek
berpakaian ala putri kerajaan mengobrol dengan asyiknya. Bella mengenakan gaun
khas putri-putri eropa, rambut brunette nya yang panjang ia tata dengan cantik.
Disebelahnya tampak seorang cewek berpakaian kimono sedang asyik tertawa riang,
matanya yang sipit selalu menjadi ciri khasnya. Siapa lagi kalau Yukino
orangnya.
Seseorang menghampiri mereka, dengan
pakaian gaun khas timur tengah, ditambah kerudung yang dikenakannya. Membuat
cewek tersebut tampak anggun dilihat. Menyadari siapa yang datang, Bella segera
menyapa dan mengajaknya ikut dalam percakapan mereka.
“Hai Laila, kamu terlihat cantik malam
ini. Mana Shinta ? Biasanya kalian selalu berdua,” tanya Bella ringan.
Pipi Laila tampak merona merah tersipu.
“Katanya, dia mau pergi sendiri. Aku disuruhnya pergi duluan. Wah kalian cantik
sekali,” Laila membalas pujian Bella.
Mereka kembali melanjutkan obrolan
mereka yang sempat tertunda. Saking asyiknya mengobrol, mereka tak menyadari
kehadiran seseorang.
“Hai, kawan-kawan,”, suara lembut keluar
menyapa Bella, Laila dan Yukino. Pakaian yang di kenakan cewek tersebut sangat
berbeda dari yang lainnya, tetapi juga sangat unik. Rambut sepinggangnya yang
hitam sangat serasi dengan kulit putih mulusnya.
Semua mata memandang kagum padanya.
Bella dan lainnya menatap dengan mata berbinar. Tak sepatah kata pun terdengar
di aula tersebut. Suasana pun menjadi hening dibuatnya.
“Shinta ?”, seorang cowok berpakaian ala
pangeran melayu menatap Shinta dengan mata yang masih menunjukkan kekaguman
sekaligus bingung.
“Yogi, akhirnya kita ketemu juga,” kata
Shinta dengan riang. Digapainya tangan cowok itu dan menariknya ke tempat
teman-temannya. “Semuanya, kenalkan ini Yogi.. Yogi ini Bella, Yukino, dan
Laila.”
“Shinta ?,” Bella bertanya dengan ragu.
“Kamu terlihat sangat menawan hari ini,”.
Yang dipuji hanya tersenyum senang.
Yukino yang sedari tadi diam ikut-ikutan bersuara. “Shinta, kamu jadi putri
siapa sih ?”.
“Aku akan menceritakannya pada kalian
nanti. Sekarang, mari kita nikmati acaranya,” Shinta memberikan senyum jail
pada ketiga temannya. “Ayo, Yogi, semuanya,”.
Mereka akhirnya menikmati acara
tersebut. Disela tawa riang mereka semua, pikiran Shinta melayang ke kejadian tiga bulan yang lalu.
“Hah ? Dewi Shinta ?”.
“Ya, dia kan juga seorang putri. Masa
kamu lupa sih, dulu kan pernah ibu ceritakan kisahnya,” ucap Bu Indri heran
dengan tingkah laku anaknya. “Kalau kamu mau, nanti ibu tunjukkan pakaiannya.
Nanti ibu juga akan ajarkan cara memakainya,”.
“Boleh deh bu. Tapi, janji ya Ibu nanti
ajarin Shinta makainya,” ujar Shinta penuh antusias. Sudah terbayang ia reaksi
teman-temannya dengan kostum yang akan dia gunakan.
“Ya, insya allah kalau ibu sempat ya,
Putri ibu yang cantik,”
“Apaan sih bu,” Shinta tersipu malu di
puji begitu. Ibu dan anak itu akhirnya tertawa bersama.
ArN