Selasa, 11 Maret 2014

Ujian Praktek Senam

Hari ini tanggal 11 Maret 2014, tepatnya jam 07.30. Aku dan semua teman kelas IX A berkumpul di lapangan sambil menanti giliran tampil. Hari ini kami mendapat giliran untuk ujian praktek olahraga yaitu senam. Kami sudah mempersiapkan senam ini dari semester satu kelas IX, jadi bisa dibilang 7 bulan kami mempersiapkannya.

Sebelum berkumpul, masing-masing kelompok sibuk mempersiapkan penampilan dan kostum kelompok mereka. Untuk yang baju biru, kelompok ismaulidya dkk. Untuk baju merah, kelompok aku. Untuk yang jaket cokelat, kelompok Zimmi. Sisanya yang warna-warni, kelompok anggi.

Saatnya tampil. Untung atau apalah ini, kelompok kami mendapat giliran pertama, jelas banget karena aku berada di urutan absen pertama. Kaget lah kami. Semuanya langsung panik dan mengambil posisinya masing-masing. Musik dimulai. Menurutku kami sudah lumayan baik. Hanya saja ada beberapa kesalahan kecil. Bukan masalah besar, yang penting kami sudah berusaha.

Lanjut ke kelompok lain. Kelompok Ismaulidya, menurutku sudah bagus. Gerakannya enerjik. Dan lagu serta gerakan senamnya seru-seru. Hanya saja, terdapat sedikit kekurangan. Namun, secara keseluruhan, aku kasih jempol deh.

Kelompok Anggi, sangat enerjik dan mencerminkan gerakan senam. Kelompok Zimmi alias kelompok Zombie (mereka yang bilang sendiri) benar-benar keren. Kostum maupun gerakannya triple wow. Namun, senamnya lebih mirip dance. Gerakan senamnya ada. Namun tidak mendominasi.

Dan yang akan tampil di perpisahan sekolah nanti adalah kelompok zimmi. Selamat ya. You're deserve get it.

Sekian ulasan mimin mengenai ujian praktek kami hari ini. Jika ada kata yang kurang berkenan, mohon dimaafkan. Mimin juga menyertakan foto kami sekelas. Lucu-lucu ya...



ArN


Sabtu, 08 Maret 2014

Wolf Diary



“Huh...” Luna menghela nafas lelah. hari-harinya di sekolah tidak pernah istimewa. Malah hari ini, Luna sudah dipermalukan di depan banyak orang. Bukan salahnya juga, kenapa Rena tiba-tiba berjalan di depannya ? lagipula tumpahan minuman itu tidak terlalu mengotori baju Rena. Namun, dengan ringannya dia memarahi dan menjelek-jelekkan Luna hanya karena hal sepele seperti itu. Rena memang kejam.
Karena uang sakunya juga habis, alhasil luna harus menahan lapar sampai jam 2 siang. Huh, lengkap sudah penderitaannya hari ini. Ingin rasanya Luna cepat menyelesaikan makan siang dan segera mencurahkan seluruh isi hatinya di dalam buku harian jingga miliknya. Buku harian itu ia temukan diantara tumpukan barang di gudang belakang rumahnya. Buku harian jingga polos tanpa gambar itu selalu menemani hari-hari sepinya di sekolah.
Sudah beberapa minggu, Luna rajin mengisi buku hariannya itu dengan berbagai peristiwa memalukan, menyedihkan sampai suasana hatinya yang kesepian selalu ia curahkan pada lembaran lusuh buku itu.
Buku harian itu semakin terasa istimewa akhir-akhir ini. Saat Luna menggoreskan tinta penanya, sebuah cahaya tiba-tiba muncul dari kertas buku harian jingga. Sesaat kemudian luna sudah berada di sebuah padang rumput yang luas. Setiap orang yang berada di situ pasti merasa sangat damai dan tenteram hatinya. Luna tidak tahu apakah itu nyata atau hanya mimpi. Itu terasa seperti mimpi yang sangat nyata, kalau tidak bisa dibilang suatu kenyataan.
Angin yang berhembus menambah kenyamanan tempat itu. Luna duduk di bawah pohon besar di sana. Sambil memejamkan mata, luna merasakan semua masalah dalam hatinya perlahan menguap.
“Huah...” Luna kaget setengah mati saat membuka matanya dan melihat seekor serigala menatapnya dengan mata besarnya. Luna sontak berlari berlindung di balik pohon besar yang tak jauh dari tempatnya duduk. Kira-kira jaraknya tak sampai 100 meter dari serigala jingga yang masih memandangnya tajam.
Luna takut sekali. Sekujur tubuhnya bergetar saat melihat pertama kali hewan karnivora itu dari dekat. Dia sampai tidak bernafas saat serigala jingga berjalan mendekatinya. Jangan mendekat.. jangan mendekat...
Sebuah keajaiban terjadi lagi di depan mata Luna. Serigala abu-abu besar yang sangat menakutinya itu perlahan berubah menjadi seorang anak laki-laki yang seumuran dengan luna. Anak lelaki itu berambut abu-abu seperti warna bulu serigala abu-abu tadi, mata cokelat karamel teduh memandangnya.
Anak lelaki itu tersenyum padanya, senyum lembut yang tidak sedikitpun menunjukkan kalau dia adalah seorang yang jahat dan menakutkan seperti serigala tadi. “Jangan takut...” sebuah kalimat keluar dari mulutnya. Hanya mendengar itu. Hati luna yang sangat gelisah seketika berubah tenang. “Namaku Wisnu, maaf tadi aku membuatmu takut. Aku pikir kamu orang jahat. Tapi sepertinya aku salah. Maafkan aku sekali lagi. Dan senang berkenalan denganmu.” Wisnu menjulurkan tangannya. Sepertinya dia memang orang baik.
Luna terpaku sesaat menyadari semua keajaiban yang telah terjadi padanya. Dan sekarang seekor serigala berubah menjadi seorang anak lelaki. Bagaimana bisa ?
Luna tersadar melihat Wisnu tak jua menarik tangannya. Luna merasa sangat tidak sopan, apabila mengabaikan seseorang yang ingin berkenalan padanya. “Ehm.. Oh ya.. Namaku Luna. Aku minta maaf juga telah berpikir kamu orang jahat. Ehm.. senang berkenalan denganmu juga.”
Luna tidak menyangka pertemuan pertamanya dengan Wisnu, menjadikan mereka teman yang akrab. Hampir setiap hari Luna mengunjungi padang rumput dan selalu tak selang beberapa menit, Wisnu muncul dengan wujudnya sebagai serigala. Namun, semakin mendekati Luna, wujud Wisnu juga berubah menjadi seorang anak lelaki biasa.
Wisnu dan Luna biasanya bermain sepuas-puasnya sampai mentari sudah ingin menghilang tergantikan kehadiran sang rembulan. Mereka melakukan berbagai hal. Wisnu biasanya yang mengajak terlebih dulu Luna untuk berkuda, memanah, memetik buah-buahan atau sekedar berlari-lari dan bermain dengan hewan-hewan di padang rumput itu.
“Hah.. capeknya... tapi sangat menyenangkan.” Luna sangat senang. Seharian ini, dia sudah berkali-kali berkuda dengan menggunakan kuda putih yang ada di sana. Tentu saja Wisnu juga ikut dengannya.
“Nih.. Minum dulu,” ujar wisnu sambil menyodorkan segelas air putih segar kepada Luna. Luna mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Mereka pun meneguk air putih dari gelas mereka masing-masing.
“Wisnu..” panggil Luna setelah mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. “Mungkinkah semua ini hanya mimpi dan akan hilang selamanya ?”
“Kamu bisa berpikir kalau ini hanya ilusi otakmu. Dan ya, mungkin dunia ini bisa hilang selamanya. Tapi pertemanan kita jangan hanya kamu lihat dan terekam di otakmu, cobalah rasakan keindahannya dan simpan dalam lubuk hati yang paling dalam. Kuharap kenangan indah ini tak akan hilang meski kita berpisah dan tidak bertemu lagi.”
Luna serasa dihujam oleh tombak besar tepat di jantungnya. Ia tidak mau semua rasa senang dan bahagia yang telah ia rasakan, menghilang dan tidak pernah bisa ia rasakan lagi. Semua kata-kata Wisnu membuatnya takut kehilangan semua ini.
Srek.. Srek.. suara gesekan dedaunan di belakang mereka mengejutkan Luna yang sedang asyik melepas lelah sambil tidur-tiduran. Wisnu segera waspada, maklum saja, di sekitar sini banyak terdapat hewan buas seperti serigala dan sebangsanya.
Mata cokelat itu melirik tajam ke segala arah. Insting Wisnu mendeteksi sesuatu yang berbahaya. Perlahan Wisnu merubah dirinya menjadi seekor serigala besar.
“Wisnu.. apa yang kau lakukan ?” tanya Luna dengan suara bergetar. Luna juga merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Namun, ia memang tidak mau terlalu memikirkannya. Dan sekarang ia semakin takut. Takut sekali.
Tepat sebelum Wisnu mengubah seluruh tubuhnya. Sebuah perintah yang ditujukan untuk luna terdengar pelan keluar dari mulutnya. “Luna, keluar dari dunia ini. Sekarang !”
Seekor macan kumbang berukuran sangat besar tiba-tiba berlari ke arah Wisnu dan mencoba menerkam Wisnu yang sudah berubah menjadi serigala. Wisnu juga sudah siap di posisinya. Pertarungan pun tak bisa di hindarkan.
Luna terbelalak takut. Kakinya serasa tak ada tenaga. Seluruh tubuhnya bergetar. Ketakutan yang ia rasakan melebihi rasa takutnya saat pertama melihat Wisnu yang berwujud serigala. Bukan saja karena macan kumbang itu sangat besar dan menakutkan tapi sekarang ia sangat takut jikalau Wisnu sampai terluka. Ia sangat tidak bisa membayangkan kehilangan sahabat terbaiknya.
Luna hanya memandangi pertarungan itu dari kejauhan. Ia sangat tidak mempunyai keberanian untuk membantu Wisnu. Tapi, ia juga tak tega melihat Wisnu berkali-kali diterkam dan digigit hewan buas itu.
Tampak sekali macan kumbang mengincar Luna. Berkali-kali wisnu menghalau macan supaya tidak jadi menerkam Luna yang terduduk lemas memandangi pertarungan sengit yang sedang berlangsung di depan matanya.
Wisnu maupun macam kumbang tampaknya sama-sama sudah tak berdaya. Tubuh mereka penuh dengan luka gigitan maupun luka cakaran. Karena merasa dirinya akan mati jika melanjutkan pertarungan, macan kumbang lalu berlari pergi menyelamatkan dirinya.
Wisnu terbaring mengenaskan di atas rerumputan. Wujudnya pun sudah kembali menjadi manusia. Luna segera berlari menghampiri Wisnu yang tergolek lemas. “Wisnu,, wisnu,, apa yang telah kamu lakukan ? Bertahanlah. Aku tak mau kehilangan sahabat sepertimu.”
Wisnu hanya tersenyum lemah memandang wajah Luna yang penuh air mata. “Aku mencoba melindungimu. Sebagai seorang sahabat, itu biasa dilakukan kan ? Sudahlah, jangan terus  menangis. Aku akan baik-baik saja.”
Luna tak bisa membendung air mata yang sudah banyak keluar. Kapan lagi dia bisa menemukan seorang sahabat yang dengan senangnya setiap hari mendengarkan seluruh keluh kesahnya.
“Luna” panggil Wisnu. “Maaf.. dan selamat tinggal.”

 ***
“Wisnu...!!!”
Luna tersadar kalau dirinya berada di atas tempat tidur bukan di padang rumput dengan wisnu lagi. Apakah semua itu mimpi ? Wisnu.. padang rumput.. semua itu.. hilang ?
Luna melihat jam dinding di dekat tempat tidurnya. Pukul 04.30. Sudah pagi rupanya. Luna lalu mulai melakukan rutinitas paginya.
Saat hendak keluar rumah, awan hitam sudah tampak menaungi langit pagi ini. suasana yang mendung semendung hati Luna. Angin dingin mulai berhembus, nampak sekali kalau akan ada hujan besar hari ini.
Luna kembali masuk ke dalam rumah, mengambil payung. Luna lalu pergi ke sekolah seperti biasa. Beberapa anak sekolah juga terlihat pergi ke sekolahnya. Hampir mereka semua membungkus tubuhnya dengan jaket tebal. Memang angin dingin berhembus semakin kencang.
Tes..tes.. dras... hujan turun tidak kira-kira. Luna dan beberapa anak lainnya berteduh di bawah pohon di dekat situ. Untung dia membawa payung. Jadi tanpa berlama-lama, Luna langsung kembali akan berjalan membelah hujan dinaungi payung ungu kesayangannya.
Mata luna sontak membesar, nafasnya juga seakan tak keluar. Tepat di pohon di seberangnya, ia melihat seorang anak lelaki juga sedang bersiap dengan payungnya. “Wisnu,,” Luna seakan tak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Dengan mata cokelat karamel namun rambut yang seingat Luna berwarna abu-abu sekarang yang ada di depannya malah berwarna hitam seperti kebanyakan anak di Indonesia. Luna sedikit ragu. Mungkin saja itu hanya kebetulan mirip dengan Wisnu.
Namun,,
Wisnu membalas tatapan diam-diam Luna. Sebuah kerutan muncul di dahinya. Gawat ! dia pikir pasti aku cewek aneh yang diam-diam menatapnya. Bagaimana ini ?
Luna tak lagi menatap Wisnu. Ia mengalihkan pandangannya ke yang lain. Cepat ke sekolah dan semua kenangan itu akan berakhir.
“Hai,,” sebuah suara yang sangat ia kenal. Namun, luna berusaha untuk mengabaikannya.
“Hai,, kamu anak SMPN 61 kan ?” suara itu lagi. Sangat dekat di telinganya.
“Ehm.. ya benar. Memangnya kenapa ya ?” Kini Luna tak bisa menghindar. Wisnu sudah menghalangi jalannya. Dia sudah berdiri di depan Luna.
“Aku anak baru di sana. Bisakah kita pergi ke sana bersama-sama ? Lagipula aku belum mempunyai seorang temanpun,” kata Wisnu dibarengi senyum manis di ujung bibir.
Luna tak sadar ikut tersenyum. Ya.. dia bukan saja sekedar mirip dengan Wisnu. Namun, sepertinya dia memang dia.
Wisnu mengartikan senyuman Luna sebagai persetujuan permintaannya tadi. Dia lalu ikut berjalan di samping Luna. “Oh ya.. Namaku Wisnu. Kamu ?”
Deg.. jantung Luna serasa berhenti berdetak. Bahkan namanya sama dengan Wisnu. Apakah ini sebuah mimpi lagi ? “A..aku Luna.”
“Hm.. Luna, berarti bulan ya.” Wisnu terdiam. Lalu melanjutkan dengan nada ragu. “Apakah kita pernah bertemu ?” katanya seraya memandang Luna dari ujung rambut sampai ujung kaki.“Kurasa aku pernah bertemu denganmu tapi dimana ya ?”
“Tidak.. kita belum pernah ketemu. Mungkin kamu bertemu denganku di dalam mimpi ?” kegugupan luna ia tutupi dengan sedikit bercanda. Walaupun sebenarnya itu bukanlah sebuah candaan, karena semua itu benar.
“Hahaha.. di dalam mimpi ya. Mungkin kamu benar.”
Dibawah derasnya air hujan yang jatuh membasahi bumi. Luna merasa semua yang dialaminya bagaikan de javu. Semua ini pernah terjadi, dan sekarang terulang kembali. Bukan dalam dunia khayalan, tapi kini ia alami di dunia nyata. Luna tak lagi bersedih. Seorang sahabat sudah datang menghapus kesedihannya. Ia tak takut lagi jika semua ini akan hilang tiba-tiba, karena semua ini bukan khayalan, tapi kenyataan.

CINTA...????!!!!

Memasuki masa remaja dan sekolah menengah banyak dari kita yang mulai ingin mengenal yang namanya CINTA...
Kamu juga begitu kan ??!!!
Apalagi hampir semua produk hiburan baik itu novel, musik, maupun film dan sinetron bertemakan CINTA. 

Cinta yang katanya indah dan membuat bahagia. Sekarang kamu tahu tidak apa artinya cinta ?
Definisi Cinta sangat objektif. Setiap orang memiliki persepsi atau pandangan yang berbeda mengenai cinta. Menurutku Cinta adalah rasa sayang, peduli dan perhatian seseorang terhadap sesuatu hal. Cinta tidak hanya antara laki-laki dan perempuan. Cinta kepada Tuhan, Orangtua, abang, kakak, adik, keluarga, dan cinta pada hal lainnya.

Nah, sekarang kamu sudah tahu kan apa itu cinta. Jika belum mengerti, ya tidak usah dipikirkan.
Cinta memang pada dasarnya bukan sesuatu yang bisa kita pikirkan tapi cinta adalah sesuatu yang hanya dapat kita rasakan. 

Balik lagi tentang cinta masa sekolah...

seseorang yang selalu membuat kita tak tenang saat kita di dekatnya. Atau malah seseorang yang membuat kita nyaman didekatnya. Aku masih bingung jika dihadapkan pada situasi tersebut. Itu berarti kita menyukainya atau kita hanya mengaguminya ??

Rasa cinta yang menurut kita, kita rasakan mungkin saja hanyalah perasaan kagum pada orang tersebut. Apalagi jika orang tersebut multitalent. Udah ganteng, pintar, cool, keren,dan sebangsanya. bagaimana kita tidak mengaguminya.

mungkin kamu pernah mendengar jika cemburu termasuk tanda sayang. Bisa saja hal itu benar namun jika cemburunya sudah sampai tahap kronis. Ini bisa bikin kita sakit hati sendiri. Bikin kita galau tak terbatas. Sampai membuat nilai sekolah kita menurun. Aduh, jangan sampai....

Pacaran

Jika si doi menyatakan perasaannya padamu, dan kamu mengatakan hal yang sama maka kalian dianggap sudah berpacaran ? 
Pacaran tidak memberi kita sesuatu apapun yang positif. Bisa jadi kita malah hanya akan diserang galau setiap malam minggu. Sakit hati saat doi tidak memberi perhatian lebih padamu.
Pacaran bukan suatu hubungan. Karena siapa dan bukti apa yang menjadikan itu suatu hubungan yang terhubung ?
Maka akan sangat aneh jika dua orang yang pacaran menyatakan mereka putus. Memang kalian mempunyai ikatan yang bisa diputus ? Nikah aja belum.
Dari segi agama saja, pacaran dilarang. Kenapa kita tetap mengikutinya ?


Jika kita memiliki perasaan kepada seseorang, itu bukan suatu penyakit yang harus dibasmi. Mungkin kita bisa mengambil suatu semangat dari rasa cinta tersebut. Semangat untuk maju. Semangat supaya menjadi seseorang yang lebih dimatanya. Cobalah menarik perhatiannya dengan berprestasi dan menunjukkan bakatmu padanya. Mungkin akan berhasil. 
Dan ingat ! Jadilah teman yang terbaik untuknya. Bukan pacar terbaik.

Sekian.  (ArN)

Sabtu, 15 Februari 2014

Bencana Alam mengguncang Indonesia

Akhir-akhir ini telah banyak terjadi bencana alam di berbagai tempat di penjuru Indonesia. Entah itu karena kehendak alam atau karena ulah manusia itu sendiri, tapi yang pasti bencana alam tersebut sangat merugikan kehidupan masyarakat sekitar.

Tak jarang, bencana ini tidak hanya mengakibatkan rugi materi saja. Namun sampai merenggut korban jiwa. Sudah banyak air mata menetes karenanya. Kita sebagai hamba Tuhan hanya bisa pasrah dan berdoa kepada-Nya.

Kali ini, mimin bakal nulis tentang bencana alam yang hangat-hangatnya dibicarakan akhir-akhir ini. Langsung aja ya.. Cekidot..


Batuk Gunung Sinabung


Teman-teman kita di Sumatera Utara sekarang sedang kesusahan. Hanya karena batuk ? Eits jangan salah kaprah dulu. Kalau yang batuk manusia sih biasa aja. Paling banter kita ketularan virusnya. Tapi yang lagi kita bicarakan bukan batuk yang itu. Yang kita bicarakan adalah... sebuah gunung.. yayaya... gunung berapi.. yayaya.. Gunung Sinabung.. yayaya.. Meletus.. What !!!!

Ya seperti yang sudah dibilang di atas. Gunung sinabung yang terletak di kabupaten karo, sumatera utara telah meletus. Ratusan orang yang mendiami di sekitar lereng gunung telah mengungsi. setelah beberapa lama, warga merasa kalau gunung sinabung sudah lumayan aman sehingga mereka bisa kembali ke rumah. Padahal dari pemerintah belum menyatakan kondisi gunung sinabung cukup aman untuk mereka kembali ke rumah. 

Akibatnya belasan orang meninggal akibat awan panas yang mendadak diletuskan kembali oleh gunung sinabung. 

Erupsi gunung sinabung tidak hanya sekali atau dua kali. Namun erupsi lainnya kembali terjadi. Hal ini mengakibatkan para pengungsi tak kunjung kembali ke rumah. Inilah yang Mimin sebut Batuk Gunung Sinabung.


Kabut Asap menyelimuti kota Khatulistiwa

Jika di Sumatera Utara sedang terjadi gunung meletus. Beda lagi dengan keadaan di daerah mimin. Kalau daerah lain di Indonesia sedang hujan sampai menyebabkan banjir. Lain halnya dengan kota Pontianak. Cuaca dan musim Kota Pontianak seringkali berbeda dengan daerah lain. Kalau sekarang daerah lain sedang hujan. Maka di Pontianak sedang kemarau. 

Beberapa minggu ini Pontianak tidak mendapat hujan seperti biasa. Cuaca di siang hari pun panas sekali. Matahari memancarkan panasnya dengan terik. Ditambah lagi adanya pembakaran lahan yang sengaja di lakukan. Kedua hal ini mengakibatkan timbulnya kabut asap. 

Kalau kabut saja sih biasa aja. Tapi ynag ini namanya KABUT ASAP. Pagi-pagi aja, pas mimin baru bangun tidur sudah ada asap tebal masuk rumah. Macam ada kebakaran saja. Apalagi mimin alergi sama yang namanya asap. Jadi deh, udahlah napas sesak. Ditambah hidung yang mampet pula. 

Selama beberapa minggu, mimin dan masyarakat lainnya selalu memakai masker saat keluar rumah. kabarnya, yang paling parah adalah saat malam hari dan berlanjut pagi hari saat mimin mau berangkat sekolah. Untung sekolah ada diliburkan, yah meski hanya dua hari, tapi lumayanlah. 

Alhamdulillah tepat hari ini, hujan sudah turun. Meski tidak terlalu deras, bisalah untuk nyiram pohon tepi jalan yang udah hampir kering kayak musim gugur kalau di luar negeri. 


Gunung Kelud meletus


Tepat saat malam hari Valentine, tanggal 13 Februari yang lalu. Salah satu gunung di Jawa Timur meletus. Letusan yang terjadi pada malam hari ini sontak membuat masyarakat panik dan segera mengungsi. 

Pagi harinya barulah ramai diberitakan di banyak media massa. Mimin juga tahunya pas nonton TV kemarin pagi. Kabarnya, abu vulkanik erupsi gunung keud tidak hanya menghujani daerah sekitarnya. Tapi juga sampai ke Jawa Barat dan Nusa tenggara. 

Dimana-mana kabut abu menyelimuti kota yang terkena hujan abu tersebut. Jarak pandang yang pendek sangat berbahaya bagi pengguna kendaraan bermotor. 

Dari yang mimin tahu, akibat hujan abu vulkanik ini. Sekolah diliburkan. Bandara terhambat aktivitasnya karena pesawat tidak bisa beroperasi dalam jarak pandang yang tidak seberapa itu. 

ArN

Sabtu, 21 September 2013

Promnite

My first Shortstory. Please give your comment.


Promnite

Cuaca di luar terasa menusuk kulit, angin dingin berhembus pelan. Salju putih tampak dimana-mana. Menyelimuti seisi kota Chicago di setiap sudut. Dinginnya musim dingin tidak menjadi hambatan untuk melakukan aktivitas penduduk chicago pagi ini.

Seperti halnya Shinta. Dengan jaket putih membalut tubuh mungilnya, ia berjalan melawan dinginnya udara pada pagi itu. Sesekali uap putih keluar dari mulutnya. Sarung tangan wol hangat yang sudah membalut tangan sepertinya masih belum cukup untuk menghalau hawa dingin yang datang.

Kakinya terus melangkah memasuki sebuah gedung sekolah. Menyusuri koridor sekolah, ia segera mencari loker 231. Setelah didapatnya loker tersebut, bergegas dia buka dan mengambil beberapa barang yang dianggap perlu.

 “Ugh, Aku benci musim dingin. Dinginnya membuatku membeku.”

Shinta sudah hafal dengan suara itu. Tanpa menoleh Ia hanya tersenyum dan menambahkan, “Kalau kau benci, berdiam diri saja di rumah. Meringkuk di bawah selimut hangat pasti sungguh enak. Mudah kan ?,”

“Ya, kamu mudah sekali mengatakannya. Kalau aku ikut kata-katamu aku bakal dapat nilai F dari Mr. Daniel.”

“Bukan saja Mr. Daniel, semua guru juga akan ngasih nilai F kalau kamu kayak gitu,” kata Shinta dibarengi tawa renyahnya. “Aku mau ke kelas dulu, kamu mau ikut, Bella?”. Shinta berbalik sambil merapikan poninya yang berantakan.

“Bolehlah, ayo,” cewek berambut brunette yang dipanggil Bella itu pun merangkul tangan Shinta. Mereka berjalan bersama menuju kelas. Berkali-kali terdengar gelak tawa dari percakapan mereka. Tampaknya mereka adalah sahabat kental. Akrab sekali kelihatannya.

 “Hei, Shinta... Bella. Good Morning guys,”

“Morning too, Laila,” jawab Bella ringan. Cewek berkerudung putih itu segera bergabung dengan Bella dan Shinta. Laila Azzahra, muslimah asli turki itu selalu riang dengan sahabat-sahabatnya.

“Morning,” jawab Shinta juga. Seulas senyum terbentuk di sudut bibirnya. Sekedar memberi sapaan lewat senyum sekilas itu.

“Eh, kalian tahu kan kalau kita ada acara semacam perpisahan gitu ?,” kata Bella memulai percakapan. Dua temannya hanya memberi anggukan kecil tanpa menjawab. “Kalian tahu tidak tema acara itu ?”, lanjutnya.

“Belum tahu lah, kan belum diumumkan.” Laila menjawab seakan pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan. Ia hanya tahu bahwa setiap tahun akan diadakan acara perpisahan seperti itu. Dan menurut perhitungannya, kalau tidak salah acara itu akan diadakan sekitar pertengahan musim semi.

“Prince and princess in the world.”

“Apa ?!.” Shinta yang sedang menegak jus jeruknya sampai tersedak dibuatnya. Dia sontak membersihkan sweaternya yang kotor terkena cipratan jus jeruknya.

“Prince and princess in the world,” ulang cewek bermata sipit yang sudah duduk bergabung dengan mereka bertiga. “Keren kan.”

“Darimana kamu tahu, Yukino ?”.

“Hm.. Belum tahu pasti juga sih. Tapi rumor yang beredar berkata begitu. Memangnya kenapa Shin ? Kok sampai tersedak begitu ?”, ujar Yukino sambil tersenyum lucu. Cewek jepang satu ini memang paling suka menggoda teman-temannya.

“Bukan apa-apa”.

“Keren juga sih. Putri dan Pangeran. Pasti seru kalau semua yang datang pakai baju princess-nya masing-masing. Apalagi ada pangeran yang datang menemani. What so Romantic”. Bella yang memdapat julukan the drama queen ikut berkomentar. Dari raut wajahnya, Bella nampak berbinar-binar membayangkan dirinya nanti.

“Wah ndak asyik nih,” ujar Laila cemberut. “Aku gimana nanti ? Mana ada baju putri tanpa harus ditutupi rambutnya.”

Semua terdiam mendengar keluhan Laila. Memang ada benarnya juga sih perkataan Laila barusan. Hampir semua putri dalam putri dongeng pasti menampakkan rambutnya. Semua berpikir keras menemukan solusinya.

“Ada kok.” Shinta yang sedari tadi terdiam kini angkat bicara. “Tinggal pakai gaun lengan panjang. Dipakaikan jilbab. Terus kalau mau lebih bagus diberi pelengkap sedikit seperti.. ehm... selendang mungkin.”

“Ya, bagus juga.”

“Mungkin kamu akan terlihat sangat cantik, Laila”.

“Ya, mungkin juga. Aku akan pikirkan idemu Shinta. Thanks.”

Berbagai komentar terdengar dari mulut ketiga temannya itu. Shinta hanya tersenyum mendengar celotehan mereka. Tak sampai satu menit, Shinta kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Telinganya tak lagi mendengar obrolan teman-temannya yang masih berlanjut.

Mata Shinta terus memandangi pohon-pohon yang perlahan memutih, ditutupi timbunan salju yang semakin menebal. Rasa dingin tak lagi dipedulikannya. Pikirannya sibuk memikirkan acara perpisahan yang masih 3 bulan lagi. Kalau benar apa yang di bicarakan teman-temannya, Shinta pasti akan bingung memikirkannya. Pergi atau tidak ? Kalau pergi mau pakai baju apa dia ?. Berbagai pertanyaan berseliweran di otak Shinta. Mencoba untuk dijawab. Tapi masih susah untuk ditemukan.

Seorang wanita paruh baya masuk ke kelas Shinta. Seketika grup mengobrol yang dibuat beberapa murid bubar dengan sendirinya. Sepertinya wanita itu memiliki wibawa yang cukup kuat, sehingga membuat segan semua murid.

Shinta yang masih melamun tidak menyadari kedatangan Mrs. Patricia, nama wanita paruh baya tersebut. Pandangannya masih mengarah ke jendela, melihat keadaan luar.

“Ms. Shinta, bisakah kamu memandang ke depan ?”.

Teguran tegas Mrs. Patricia seketika melenyapkan lamunan Shinta. Kesadarannya sudah ia peroleh kembali. Matanya bergegas menatap ke depan kelas. Melihat Mrs. Patricia yang sudah tak sabar memberi materi pelajaran ke murid-muridnya.

“Baiklah. Thank you for your attention. Sebelum kita memulai pelajaran hari ini. Saya mau mengumumkan sesuatu.” Mrs. Patricia menarik nafas sejenak. “Sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian akhir. Sebelum upacara kelulusan, kalian harus menghadiri semacam acara perpisahan. Nah, untuk lebih lanjutnya silakan kalian lihat di papan pengumuman.”

Kirain apaan, gerutu Shinta pelan. Setelah berbicara seperti itu, Mrs. Patricia memulai pelajaran seperti biasa. Beberapa kali, pikiran Shinta kembali ke masalah acara perpisahan itu. Tapi, selalu terhenti saat ia memarahi dirinya sendiri dalam hati. Dia tak mau perjuangannya selama di negara orang ini sia-sia cuma karena masalah sepele itu.

***
“Shinta, aku pulang duluan ya. Bye”.

“Ok, Bella.”.

Jam sekolah sudah berakhir dari lima menit yang lalu, di kelas hanya tersisa beberapa orang termasuk juga Shinta didalamnya. Setelah Ms. Irene keluar kelas, Shinta masih sibuk mencatat pelajaran di buku catatannya. Baru sekarang, dia bisa pulang ke asramanya di sebelah barat gedung sekolahnya.

Sebelum pulang, Shinta selalu mengecek kembali lokernya. Lagipula, jaket putihnya juga ia simpan disana. Sambil berjalan, Shinta sibuk memasukkan buku-bukunya ke tas. Rambutnya yang sedikit berantakan juga sesekali disisirnya menggunakan jari.

Karena tidak melihat jalan di depannya, Shinta tak sengaja menabrak seorang cowok di depannya. Karena postur badan yang tidak seimbang, Shinta jatuh terduduk dibuatnya. Sambil mengerang kesakitan, Shinta memarahi cowok yang masih berdiri di depannya.

“Kamu tidak apa-apa ?”, tanya cowok itu pelan setelah amarah Shinta mereda. Tangannya ia ulurkan untuk membantu Shinta. Tetapi, Shinta malah diam.

Wah, gantengnya cowok ini, batinnya terpana.

“Kamu tidak apa-apa ?, ada yang sakit ?”, ulang cowok itu lagi. Matanya menatap Shinta cemas. Mungkin ia merasa bersalah sudah membuat cewek satu ini jatuh terduduk di lantai.

Mata Shinta mengerdip dua kali, mencoba mengembalikan kesadarannya. “Ya, a..ku sudah tidak apa-apa. Maafkan aku,” Shinta menyambut uluran tangan cowok tersebut.

“Aku yang harus minta maaf. Aku minta maaf ya,” kata cowok itu tersenyum. Oh, senyumnya membuat Shinta terasa mau pingsan. Manis sekali. “By the way, Aku Yogi. Senang berkenalan denganmu.”

“Aku Shinta, senang berkenalan denganmu juga,”. Mendengar nama cowok itu Yogi, rasa penasaran Shinta tak` tertahankan. “Kamu orang Indonesia ?”.

Sesaat terlihat raut bingung di wajah Yogi, “Ya, memang nya kenapa ? kok kamu bisa tahu?”.

“Hanya menebak. Ehm.... aku juga orang indonesia soalnya”.

“Wah, kebetulan sekali.” Yogi berpikir sejenak, “Sebagai permintaan maaf, maukah kamu jadi pasanganku di acara perpisahan nanti ? Kebetulan aku belum ada pasangan.”

Tanpa berpikir lama, Shinta langsung menyetujui ajakan Yogi. Siapa sih yang ndak mau diajak sama cowok seganteng dia. “Bolehlah, nanti kita langsung ketemuan di tempat acaranya ya.”

“Baiklah, aku pergi dulu ya. Sampai ketemu disana, bye.”

Shinta kembali melangkahkan kakinya ke arah lokernya. Setelah mengambil jaket putih dan memakainya. Shinta segera berjalan pulang menuju asramanya. Sebelum keluar dari gedung sekolah, Shinta sengaja berbelok ke arah papan pengumuman. Melihat kebenaran rumor tentang tema perpisahan itu.

Sebuah kertas besar berwarna terpampang jelas, Shinta mendekat mencoba memperjelas tulisan yang mau dilihatnya. Matanya segera beralih ke luar gedung, memandangi salju putih diluar yang jatuh satu persatu. Dia menghela napas dalam, mengapa tema-nya harus itu ?
***
“Shinta, kamu jadi liburan kali ini pulang ke Indonesia ?,” tanya Laila tanpa menoleh ke arah Shinta. Dirinya masih sibuk menautkan diri di depan cermin.

“Tentu, memangnya kenapa ? kamu mau oleh-oleh ?.”

“Bukan apa-apa,” kepala Laila bergoyang ke kanan dan kiri. “Hanya saja kalau kamu liburan di sini, kita bisa liburan sama-sama.”

“Other time, Ok.”

Shinta kembali sibuk memasukkan barang-barang yang dianggap perlu untuk di bawa ke Indonesia. Rencananya, besok ia akan pulang ke Indonesia menggunakan pesawat. Liburan musim dingin merupakan kesempatan emas untuk kembali ke negara asalnya.

Laila yang dari tadi hanya berdiri melihat kegiatan teman sekamarnya itu, perlahan ikut duduk di kasur Shinta dan membantunya berkemas. “Jangan lupa belajar Shin, setelah liburan ujian akhir menunggu lho... Ehm..Nanti kamu sama siapa pergi ke acara perpisahan itu, Shin?”.

Shinta yang tadinya hendak mengangguk, mendengar pertanyaan Laila ia malah tersenyum. “Yogi.”

“Yogi ? siapa tuh ? Belum pernah dengar.” Nada suara Laila terdengar bingung.

“Nantilah kamu ngelihat dia di acara nanti. Pasti kamu bakal meleleh kalau ngelihat tampangnya,” senyum Shinta semakin membesar. “Ternyata dia orang Indonesia, lho. Kalau kamu ?”.

“Aku ?”, senyum hambar terlukis diujung bibirnya. “Paling sama Ahmad, Ummi mana boleh dengan yang lain,”. Laila menyebut nama saudara kembarnya dengan kesal. Ibunya yang dia sebut Ummi, adalah ibu asrama di sana. Jadi segala hal yang dilakukan Laila pasti diketahui sama Ummi-nya.

Mereka kembali sibuk membereskan barang-barang yang masih teronggok minta dimasukkan. Beberapa kali Laila maupun Shinta menguap karena kantuk. Malam yang semakin larut, membuat kedua sahabat itu cepat terlelap setelah menyelesaikan kegiatan mereka. Semua rencana, sudah tersusun rapi di otak Shinta. Tak sabar ia menunggu hari esok. Tak sabar ia bertemu ibunya. Tak sabar ia menjalankan rencananya.
***
Spring time !! Musim dingin yang penuh hamparan salju kini perlahan menghilang. Rumput-rumput dan dedaunan hijau mulai menghiasi wajah kota Chicago. Liburan musim dingin pun sudah berakhir sejak lama. Murid-murid sekolah kembali menjalankan aktivitasnya. Aroma musim semi tercium di mana-mana.

Dengan langkah pasti, Shinta berjalan menyusuri jalanan kota menuju sekolahnya. Kali ini, Laila juga ikut menemani. Mereka memang sudah janjian untuk pergi bersama.

“Yey, tak terasa ya, besok kita akan pergi ke acara perpisahan sekolah,” suara laila memecah keheningan diantara mereka berdua. “Aku masih penasaran dengan pasanganmu nanti itu, Siapa namanya ? Ehm Yogi, kalau tidak salah.”

Shinta seketika mengingat-ingat tanggal esok hari. Pikirannya langsung membayangkan acara perpisahan nanti. Dan pakaian yang rencananya ia akan kenakan. Dalam hati ia juga tidak sabar untuk pergi ke acara itu. “Kita lihat saja nanti,” gumamnya.

“Apa ?”.

“Eh.. Bu.. kan apa-apa. Lupakan saja,” ucap Shinta terbata sambil menggoyangkan tangan kanannya. Tanpa sadar, ia tak sengaja menyuarakan isi hatinya.

“Jadi, nanti kamu pakai baju apa ?”.

Shinta tersentak mendengar kata-kata Laila, tak mau dia membocorkan kostum yang akan di pakainya. Akhirnya ia cuma bisa berkata, “Kita lihat saja nanti.”
***
Malam itu, aula sekolah terlihat sangat ramai. Sebuah spanduk besar bertuliskan ‘Graduation night’ terlihat di pasang diatas panggung. Berbagai makanan serta minuman terhidang disana.

Di sudut ruangan tampak dua orang cewek berpakaian ala putri kerajaan mengobrol dengan asyiknya. Bella mengenakan gaun khas putri-putri eropa, rambut brunette nya yang panjang ia tata dengan cantik. Disebelahnya tampak seorang cewek berpakaian kimono sedang asyik tertawa riang, matanya yang sipit selalu menjadi ciri khasnya. Siapa lagi kalau Yukino orangnya.

Seseorang menghampiri mereka, dengan pakaian gaun khas timur tengah, ditambah kerudung yang dikenakannya. Membuat cewek tersebut tampak anggun dilihat. Menyadari siapa yang datang, Bella segera menyapa dan mengajaknya ikut dalam percakapan mereka.

“Hai Laila, kamu terlihat cantik malam ini. Mana Shinta ? Biasanya kalian selalu berdua,” tanya Bella ringan.

Pipi Laila tampak merona merah tersipu. “Katanya, dia mau pergi sendiri. Aku disuruhnya pergi duluan. Wah kalian cantik sekali,” Laila membalas pujian Bella.

Mereka kembali melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda. Saking asyiknya mengobrol, mereka tak menyadari kehadiran seseorang.

“Hai, kawan-kawan,”, suara lembut keluar menyapa Bella, Laila dan Yukino. Pakaian yang di kenakan cewek tersebut sangat berbeda dari yang lainnya, tetapi juga sangat unik. Rambut sepinggangnya yang hitam sangat serasi dengan kulit putih mulusnya.

Semua mata memandang kagum padanya. Bella dan lainnya menatap dengan mata berbinar. Tak sepatah kata pun terdengar di aula tersebut. Suasana pun menjadi hening dibuatnya.

“Shinta ?”, seorang cowok berpakaian ala pangeran melayu menatap Shinta dengan mata yang masih menunjukkan kekaguman sekaligus bingung.

“Yogi, akhirnya kita ketemu juga,” kata Shinta dengan riang. Digapainya tangan cowok itu dan menariknya ke tempat teman-temannya. “Semuanya, kenalkan ini Yogi.. Yogi ini Bella, Yukino, dan Laila.”

“Shinta ?,” Bella bertanya dengan ragu. “Kamu terlihat sangat menawan hari ini,”.

Yang dipuji hanya tersenyum senang. Yukino yang sedari tadi diam ikut-ikutan bersuara. “Shinta, kamu jadi putri siapa sih ?”.

“Aku akan menceritakannya pada kalian nanti. Sekarang, mari kita nikmati acaranya,” Shinta memberikan senyum jail pada ketiga temannya. “Ayo, Yogi, semuanya,”.

Mereka akhirnya menikmati acara tersebut. Disela tawa riang mereka semua, pikiran Shinta melayang ke kejadian tiga bulan yang lalu.

“Hah ? Dewi Shinta ?”.

“Ya, dia kan juga seorang putri. Masa kamu lupa sih, dulu kan pernah ibu ceritakan kisahnya,” ucap Bu Indri heran dengan tingkah laku anaknya. “Kalau kamu mau, nanti ibu tunjukkan pakaiannya. Nanti ibu juga akan ajarkan cara memakainya,”.

“Boleh deh bu. Tapi, janji ya Ibu nanti ajarin Shinta makainya,” ujar Shinta penuh antusias. Sudah terbayang ia reaksi teman-temannya dengan kostum yang akan dia gunakan.

“Ya, insya allah kalau ibu sempat ya, Putri ibu yang cantik,”

“Apaan sih bu,” Shinta tersipu malu di puji begitu. Ibu dan anak itu akhirnya tertawa bersama.

ArN