“Pena kamu ketemu ?”
Gita bertanya keesokan harinya.
“Hm…” Salsha hanya bisa
mengangguk selagi ia menelan makanan.
“Bagus deh.” Gita
memesan makanan dan duduk di hadapan Salsha. “Jadi, apa kata Deni ?”
“Katanya..” Salsa
menghabiskan minumannya. “Sama-sama adik manis.” Salsha merengut kesal
mengingat kejadian kemarin.
“Apa ? dia bilang kamu
adik manis ? Sebaiknya kamu memang harus menambah tinggi beberapa senti deh.”
“Kenapa harus aku ? Dia
aja yang tingginya ngalahin tiang listrik.” Salsha menusuk-nusuk bakso yang
tersisa satu di mangkok. Makin kesal.
Gita geleng-geleng
kepala melihat tingkah temannya. Mau apa lagi. Salsha memang cewek terchibi di
sekolahnya. Maksudnya terkecil plus terimut. Makanya tak heran, hampir sering
ia terima perlakuan seperti anak kecil. Padahal sebentar lagi, Salsha bakal
lulus SMA dan kuliah.
Salsha memandang ke
sekeliling kantin, mencoba mencari objek
menarik. Matanya tertuju pada sekelompok anak lelaki yang sedang
mengobrol dan salah satunya adalah Deni. Penampilannya masih sama seperti
kemarin, berantakan dan tidak rapi. Senyumnya pun tak pernah lepas dari
bibirnya. Sama persis seperti kemarin.
Tapi baru hari ini ia
sadar kalau ternyata Deni bukan anak belagu yang sering bikin masalah. Dia
malah terkesan ramah dan pandai bergaul.
Salsha mengerutkan
kening tatkala melihat Juniel, cewek terpopuler di sekolahnya mendekat kea rah
Deni. Mau apa dia, batin Salsha.
Dari gelagat dan
tingkah laku Juniel yang Salsha lihat. Jelas sekali kalau Juniel berusaha
membuat Deni tertarik padanya, tapi Deni malah berkali-kali menjauhi Juniel.
“Juniel, udah dong.
Jangan dekat-dekat,” ujar Deni akhirnya.
“Kenapa sih ? Emang aku
salah ?”
Deni tidak menjawab,
tapi tetap terlihat risih. Akhirnya Deni menyerah, dia bangkit dan pergi.