Rabu, 09 April 2014

That Last Word #2

“Pena kamu ketemu ?” Gita bertanya keesokan harinya.

“Hm…” Salsha hanya bisa mengangguk selagi ia menelan makanan.

“Bagus deh.” Gita memesan makanan dan duduk di hadapan Salsha. “Jadi, apa kata Deni ?”

“Katanya..” Salsa menghabiskan minumannya. “Sama-sama adik manis.” Salsha merengut kesal mengingat kejadian kemarin.

“Apa ? dia bilang kamu adik manis ? Sebaiknya kamu memang harus menambah tinggi beberapa senti deh.”

“Kenapa harus aku ? Dia aja yang tingginya ngalahin tiang listrik.” Salsha menusuk-nusuk bakso yang tersisa satu di mangkok. Makin kesal.

Gita geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya. Mau apa lagi. Salsha memang cewek terchibi di sekolahnya. Maksudnya terkecil plus terimut. Makanya tak heran, hampir sering ia terima perlakuan seperti anak kecil. Padahal sebentar lagi, Salsha bakal lulus SMA dan kuliah.

Salsha memandang ke sekeliling kantin, mencoba mencari objek  menarik. Matanya tertuju pada sekelompok anak lelaki yang sedang mengobrol dan salah satunya adalah Deni. Penampilannya masih sama seperti kemarin, berantakan dan tidak rapi. Senyumnya pun tak pernah lepas dari bibirnya. Sama persis seperti kemarin.

Tapi baru hari ini ia sadar kalau ternyata Deni bukan anak belagu yang sering bikin masalah. Dia malah terkesan ramah dan pandai bergaul.

Salsha mengerutkan kening tatkala melihat Juniel, cewek terpopuler di sekolahnya mendekat kea rah Deni. Mau apa dia, batin Salsha.

Dari gelagat dan tingkah laku Juniel yang Salsha lihat. Jelas sekali kalau Juniel berusaha membuat Deni tertarik padanya, tapi Deni malah berkali-kali menjauhi Juniel.

“Juniel, udah dong. Jangan dekat-dekat,” ujar Deni akhirnya.

“Kenapa sih ? Emang aku salah ?”


Deni tidak menjawab, tapi tetap terlihat risih. Akhirnya Deni menyerah, dia bangkit dan pergi.