Selasa, 18 Maret 2014

That Last Word #1

Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 16.30 namun Salsha masih belum pulang. Sesuatu masih mengusik pikirannya. Sosok tinggi yang sedang duduk di bukit belakang sekolahnyalah penyebabnya. Sepertinya dia bukan anak baru, tapi dari penampilannya jelas sekali dia termasuk biang bandel di sekolah. Baju seragam berantakan dan tidak rapi. Rambutnya juga sangat berantakan, seperti baru bangun tidur.

Sejak satu jam yang lalu, Salsha menahan dirinya di balik sebuah semak belukar. Dia memperhatikan cowok itu. Kalau tidak salah namanya Deni. Salsha sempat bertanya pada Gita sebelum pulang sekolah. Sebenarnya dia menanyakan apakah Gita melihat pena kesayangannya yang hilang. Pena itu bukan pena biasa, selain bentuknya yang bagus dan beda dari yang lain, pena itu juga merupakan pemberian paman Tio dari Perancis.

Tapi Gita malah bilang kemungkinan pena itu dicuri oleh Deni.

“Deni siapa ?” Tanya Salsha bingung. Jelas sekali dia tak tahu, soalnya selama di sekolah Salsha jarang keluar kelas.

“Ituloh. Deni yang tinggi dan ganteng itu. Masa kamu ndak tahu.”

“Iya deh. Tapi Deni yang mana ?”

“Tunggu sebentar.” Gita melihat sekeliling. “Yang itu. Yang pakai jaket hijau.”

“Yang itu ?” Salsha melongo memandang sosok tinggi yang keluar dari kelas XII IPA 1. Jika dibandingkan tinggi Salsha paling banter sebahu dia.

“Yup. Aku pulang dulu ya. Udah ditungguin.”

Salsha tidak mendengar kata terakhir Gita. Dia keburu mengejar Deni yang langkahnya bagai raksasa. “Hei. 
Deni… Tunggu”

Tapi Deni tidak mendengar dan terus berjalan ke arah bukit belakang sekolah. Dan sekarang Salsha menunggunya. 

Kres.. Kres..

“Hei…”

“Wa…” Salsha jatuh terduduk saat suara berat itu mengejutkannya. Dihadapannya kini adalah sosok tinggi yang sedang tersenyum lebar.

“Jangan duduk di situ.” Deni mengulurkan tangannya dan langsung disambut Salsha. “Ngapain ngumpet di semak gitu. Bukannya banyak semut dan serangga lain ?”

Setelah membersihkan roknya yang kotor, Salsha mendongakkan kepala. “Kamu ada ngambil pena warna biru ndak ? yang ada tulisan Paris, French ?”

Deni terdiam sejenak, lalu menjentikan jari. Caranya ini membuat Salsha terkejut dan hampir jatuh lagi. “Pena itu punya kamu ya. Sebenarnya aku mau ngembalikan besok. Pasang di papan pengumuman gitu.” Deni merogoh kantong celananya. “Ini dia.”

“Wah.. Alhamdulillah. Terima kasih ya.”

“Iya.. Sama-sama adik manis.”

“Hei.. Kita seangkatan kali. Cuman beda kelas aja.” Salsha memandang Deni dengan alis terangkat.

“Oh ya ? Maaf deh. Habis kamu..”


“Aku tahu. Terima kasih lagi,” potong Salsha cepat. Dia kembali membersihkan dan merapikan seragamnya. 

“Aku pergi.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar