Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 16.30 namun Salsha
masih belum pulang. Sesuatu masih mengusik pikirannya. Sosok tinggi yang sedang
duduk di bukit belakang sekolahnyalah penyebabnya. Sepertinya dia bukan anak
baru, tapi dari penampilannya jelas sekali dia termasuk biang bandel di
sekolah. Baju seragam berantakan dan tidak rapi. Rambutnya juga sangat
berantakan, seperti baru bangun tidur.
Sejak satu jam yang lalu, Salsha menahan dirinya di balik
sebuah semak belukar. Dia memperhatikan cowok itu. Kalau tidak salah namanya
Deni. Salsha sempat bertanya pada Gita sebelum pulang sekolah. Sebenarnya dia
menanyakan apakah Gita melihat pena kesayangannya yang hilang. Pena itu bukan
pena biasa, selain bentuknya yang bagus dan beda dari yang lain, pena itu juga
merupakan pemberian paman Tio dari Perancis.
Tapi Gita malah bilang kemungkinan pena itu dicuri oleh Deni.
“Deni siapa ?” Tanya Salsha bingung. Jelas sekali dia tak
tahu, soalnya selama di sekolah Salsha jarang keluar kelas.
“Ituloh. Deni yang tinggi dan ganteng itu. Masa kamu ndak
tahu.”
“Iya deh. Tapi Deni yang mana ?”
“Tunggu sebentar.” Gita melihat sekeliling. “Yang itu. Yang
pakai jaket hijau.”
“Yang itu ?” Salsha melongo memandang sosok tinggi yang
keluar dari kelas XII IPA 1. Jika dibandingkan tinggi Salsha paling banter
sebahu dia.
“Yup. Aku pulang dulu ya. Udah ditungguin.”
Salsha tidak mendengar kata terakhir Gita. Dia keburu
mengejar Deni yang langkahnya bagai raksasa. “Hei.
Deni… Tunggu”
Tapi Deni tidak mendengar dan terus berjalan ke arah bukit
belakang sekolah. Dan sekarang Salsha menunggunya.
Kres.. Kres..
“Hei…”
“Wa…” Salsha jatuh terduduk saat suara berat itu
mengejutkannya. Dihadapannya kini adalah sosok tinggi yang sedang tersenyum
lebar.
“Jangan duduk di situ.” Deni mengulurkan tangannya dan
langsung disambut Salsha. “Ngapain ngumpet di semak gitu. Bukannya banyak semut
dan serangga lain ?”
Setelah membersihkan roknya yang kotor, Salsha mendongakkan
kepala. “Kamu ada ngambil pena warna biru ndak ? yang ada tulisan Paris, French
?”
Deni terdiam sejenak, lalu menjentikan jari. Caranya ini
membuat Salsha terkejut dan hampir jatuh lagi. “Pena itu punya kamu ya. Sebenarnya
aku mau ngembalikan besok. Pasang di papan pengumuman gitu.” Deni merogoh
kantong celananya. “Ini dia.”
“Wah.. Alhamdulillah. Terima kasih ya.”
“Iya.. Sama-sama adik manis.”
“Hei.. Kita seangkatan kali. Cuman beda kelas aja.” Salsha
memandang Deni dengan alis terangkat.
“Oh ya ? Maaf deh. Habis kamu..”
“Aku tahu. Terima kasih lagi,” potong Salsha cepat. Dia kembali
membersihkan dan merapikan seragamnya.
“Aku pergi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar