Jumat, 09 Mei 2014

That Last Word #3

“Aku suka kamu.” Salsha menahan langkahnya saat mendengar perkataan itu. Dia berusaha menajamkan pendengarannya. Dua sosok yang berbeda terlihat sedang berhadapan. Salsha yang dasarnya selalu pengen tahu mendekat dan bersembunyi di balik pohon.

“Terus ? Aku tidak suka kamu.”

“Memangnya aku kurang apa ? Kurang cantik ? Kurang kaya ?”

Tak ada jawaban. Salsha melihat dari balik pohon. Dia tidak mengenali dua orang itu sampai salah satunya membalikkan badan tepat menghadap Salsha. Dan saat itulah dia menahan nafas.

“Karena…” Deni memandang langit. “Aku tidak mau menerima barang bekas dan aku juga tidak mau menjadi barang bekas.”

“Apa maksudmu ? Aku barang bekas ? Jangan asal ngomong,” Juniel mulai marah.

“Terserah kamu mau mengartikannya apa.”

Salsha menghembuskan nafas yang sempat ia tahan. Kalimat terakhir Deni sangat mengejutkan. Bagaimana bisa dia menyebut Juniel barang bekas ? Salsha terduduk sambil memikirkan kalimat itu. Juniel memang terkenal sering gonta-ganti pacar, tapi tidak sebegitunya juga kan ? Salsha merasa sebagian hatinya setuju dengan kalimat itu. Tapi sebagai perempuan, Salsha juga tidak terima jika dikatakan begitu.

“Hei…”

Salsha terjatuh untuk kedua kalinya. Deni sedang berdiri di hadapannya dengan senyum lebar miliknya.

“Dengerin apa aja ?” Deni mengulurkan tangannya.

Salsha hanya bisa tersenyum malu. Ia memandang Deni lalu menyambut tangannya. “Maaf.”

“Kalau mau dengerin orang ngomong, langsung aja ngelihat, ndak perlu sembunyi di sini,” ujar Deni ringan seakan itu boleh dilakukan tadi.

“Jangan gitu dong.” Salsha jadi merasa bersalah. “Maaf deh.”

“Bukan apa-apa.” Deni melihat jam tangannya sambil bergumam tak jelas. “Sebaiknya aku pergi.”

Salsha tidak tahu, ini namanya takdir, kebetulan, keberuntungan, atau kesialan. Hampir setiap hari dia bertemu Deni dan itu bukanlah pertemuan yangmenyenangkan. Hampir setiap mereka, Deni selalu muncul dengan cara yang mengejutkan Salsha, dan kalau sudah begini, Salsha bakal jatuh.

Bukan hanya cara pertemuannya saja yang membuat Salsha selalu was-was. Tapi sejak hari itu, dia tidak pernah berhenti memikirkan perkataan Deni. Timbul satu penilaian lagi dalam diri Salsha, Deni ternyata memiliki darkside yang cukup menakutkan sekaligus cool. Salsha yang notabene belum pacaran jadi mendapat sedikit pencerahan.

Ya.. setiap hari Salsha selalu bertemu dengannya dan satu hal lagi yang salsha benci saat mereka bertemu adalah panggilan adik manis untuknya. Berkali-kali Salsha menegurnya, bahkan memarahinya tapi tetap saja Deni tak berubah. Dia berdalih kalau panggilan itu sangat cocok dengan Salsha.

“Sudahlah, terima saja kok susah. Panggilan itu sudah paling manis lho. Jangan marah ya adik manis,” kata Deni tenang sambil mengacak-acak kerudung Salsha.

“Jangan pakai aksi ngeberantain kerudungku juga dong,” sahut salsha kesal. Tangannya sibuk merapikan kerudungnya yang berantakan.

Namun akhir-akhir ini, Salsha sudah jarang melihatnya. Kalaupun melihat, Deni pasti langsung menghindar. Deni kelihatan sering melamun sambil memandang pohon besar di belakang sekolah. Salsha tak bisa menebak apa yang tersembunyi di balik mata teduhnya. Antara putus asa dan sedih.

Salsha tidak ingin memikirkannya, tapi selalu ia merasa resah. Pernah tercetus di benaknya, apakah dia khawatir ? Ya, tidak salah kan kita khawatir saat melihat teman kita sedih.

“Boleh kita bicara sebentar ?”  gelagat Deni hari ini sangat berbeda. Dia lebih pendiam, lebih dingin dan tidak ada senyum seperti biasa.

“Ya ?” Salsha yang baru pulang sekolah sedikit bingung dan aneh melihat Deni saat ini.

“Ikut aku.”

Salsha menaikkan satu alisnya, bingung mau ngapain, akhirnya dia menuruti perintah Deni. Siapa tahu ini penting.

Salsha mengikuti Deni ke sebuah tempat. Tempat yang mengingatkannya akan sesuatu. Sebuah pohon besar dan rimbun menaungi mereka dari terpaan sinar matahari yang panas. Salsha terus mengingat sementara Deni sudah duduk di atas rerumputan.

“Bukankah ini tempat pertama kita bertemu ?”

“Ya. Tempat kau memata-mataiku,” jawab Deni hangat, seperti seseorang yang sama sekali berbeda dari yang tadi. Mendengar nada suara Deni yang melunak, Salsha menjadi nyaman. Dia ikut duduk di sampingnya.

“Jadi, ngapain kita di sini ?”

“Aku pengen ngasih kamu sesuatu.” Deni merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah kalung berbandul hati kayu yang terukir sesuatu di situ. “Ini untuk kamu. Tolong dijaga ya.”

Salsha takjub memandang kalung itu. “AM ? Apaan tuh ?” tanyanya saat melihat ukiran tulisan di bandul kalung.

“Jangan dilihat aja dong. Nih ambil.” Deni menggenggamkan kalung itu ke tangan Salsha. Lalu melanjutkan, 

“AM itu singkatan dari Adik Manis. Cantik kan ?”

“Ya cantik,” ujar Salsha masih takjub dengan kalung yang ada di genggamannya. Tetapi raut wajahnya langsung berubah drastis. “Apa ? Adik Manis ? Kenapa harus nama itu sih ?

“Jadi ndak mau nih ?”

“Eh.. Mau.. Mau.. Maksudku bukan begitu.”

“Aku akan pergi ke Korea.”

“Korea ? Ngapain ? Mau jadi artis ya ? Boyband macam EXO tuh ?” Salsha tersenyum lucu membayangkan jika semua itu terjadi.

Deni juga ikut tersenyum mendengarnya, “Jika kamu berpikir begitu, anggap saja begitu.”
Sejenak mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Angin sore berhembus lembut. Tiba-tiba keheningan itu dipecah oleh suara Deni. “Aku suka kamu.”

“Apa ?”

Salsha merasa pendengarannya sudah terganggu. Apakah Deni bilang kalau dia suka padanya ? Apakah dia sedang berkhayal ?

“Kamu tidak sedang berkhayal. Itulah yang kau dengar.”

“Tapi…” Salsha memikirkan kata-kata yang sesuai. “Bukankah kamu ndak mau pacaran ?”

“Siapa bilang kita pacaran ? Aku hanya mengungkapkan apa yang kupikir selama ini. Lagipula kemungkinan besar kita tidak akan…” Deni memberi jeda, lalu berkata dengan pelan. “Bertemu lagi.”
 ***

Salsha sama sekali tidak mendengarkan penjelasan dosennya. Dia melamun lagi. Teman-temannya sudah hapal betul kebiasaan Salsha saat dia melamun. Posisi khas, satu tangan menahan dagu, satu tangannya lagi asyik mencoret-coret kertas tidak jelas. Sedangkan pandangannya pasti ke arah luar jendela.

“Salsha, coba jelaskan yang dimaksud karies gigi ?”

Salsha tidak menjawab dan masih asyik melamun. Rupanya sang dosen tahu kebiasaan mahasiswinya satu ini. Beliau kembali bertanya sambil tangannya mengetuk-ngetuk meja Salsha. “Salsha.. Salsha.. melamun lagi kamu.”


Salsha langsung terkejut mendengar teguran dosennya. “Maaf bu,” katanya dengan kepala menunduk. Ia masih memikirkan lamunanya. Digenggamnya kalung yang menggantung anggun di lehernya. Kata-kata terakhir yang diucapkan sang pemberi kalung belum sekalipun ia lupakan. “Aku percaya jika kita akan betemu lagi, entah itu kapan. Tapi aku tetap percaya, Deni,” bisiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar